Nomor Satu Atau Tidak Sama Sekali?
Dalam kehidupan pasti ada yang terbaik dan ada yang biasa saja atau bahkan terburuk. Dalam kompetisi pasti ada yang menang dan ada yang jadi pecundang. Lantas pilihannya jatuh pada diri kita. Apakah kita akan ikut berkompetisi dengan kemungkinan Jadi nomor satu atau kalah, atau kita tidak ikut sama sekali?
Kalau kita memutuskan untuk maju, berarti kita siap untuk menang dan juga siap untuk kalah. Kecendrungan manusia sepertinya lebih kepada siap untuk menang tapi gak siap untuk kalah. Sehingga, kebanyakan tidak mau ikut berkompetisi karena takut kalah.
Beberapa waktu kedepan, Negeri kita juga akan kembali menggelar acara kompetisi akbar. Pemilihan Presiden. Dan ada tiga pasang calon yang sudah memutuskan untuk memperebutkan nomor satu itu.
Jusuf Kalla dan Wiranto adalah pasangan yang pertama kali memproklamirkan diri untuk ikut bertarung dalam pilpres. Setelah “diceraikan” oleh SBY, Partai golkar melalui Ketua Umumnya Jusuf Kalla segera menyusun rencana-rencana menyikapi perceraian itu. Dan pada akhirnya Jusuf Kalla menggandeng ketua Partai Hanura Wiranto.
SBY yang bisa sedikit menyombongkan diri karena keberhasilan Partai Demokrat memenangkan Pemilu Legislatif lalu, sepertinya merasa bisa membuat keputusan sendiri tentang siapa yang akan jadi pendampingnya dalam Pilpres mendatang. Beberapa masukan dari partai pendukung koalisi dengan Demokrat, seperti PKS, PAN, PKB, dan beberapa partai lain yang mengusulkan calon pendamping SBY dianggap angin lalu saja. Dan akhirnya berujung pada pemilihan Boediono yang berasal dari kalangan non partai untuk menjadi pendampingnya.
Megawati, bisa dibilang Spesialis Runner Up. Setelah menjadi presiden RI menggantikan presiden Gus Dur yang lengser dalam Sidang Istimewa MPR tahun 2001, Megawati kembali maju di Pilpres langsung pertama di Indonesia. Dan Ia kalah dari SBY di putaran kedua. Kali ini, Mega kembali maju dalam pilpres, dan masih menjadi Capres dengan pendampingnya Prabowo yang sebenarnya bersikukuh untuk maju jadi capres lagi, namun berhasil diyakinkan oleh PDIP untuk jadi cawapres aja.
Banyak nama lain yang dulu diisukan akan ikut berkompetisi, namun pada akhirnya batal karena berbagai alasan, atau memang merasa belum siap untuk kalah.
Suatu saat nanti, mungkin aku akan memutuskan untuk ikut berkompetisi memperebutkan nomor satu juga, atau mungkin aku akan tetap merasa takut kalah, sehingga memutuskan hanya menjadi orang yang melihat dan mengamati.
Tags: Boediono, JK, kompetisi, Megawati, Pilpres, Prabowo, SBY, Wiranto






politik oh politik…..
yang cerai kembali CLBK seperti JK-win
yang sok tenar akhirnya ngalah juga
politik memang tidak bisa ditebak
Hmmmm satu atau tidak sama sekali.. cocok banget pilihan katanya..
Wuih
VOTE bang FIKO for President.
btw yg diwordpress kenapa gak bisa diakses bang?
bagian TOS yg mana yang mereka anggap melanggar? apakah sama dengan kasusnya Hendrawan?
jadi bang fiko mau coba ikut berkompetisi nih? hehe….klo jadi presiden, attayaya jadi mentri lingkungan hidup, jengsri jadi mentri pemberdayaan perempuan..cocok ituuh
Mending mundur dulu kang kalo belum siap kalah, daripada maju trus kalah dan ndak siap trus bikin gara-gara, nggak legowo itu namanya.
siang nice blog euy
Ikut berpartisipasi akan lebih baik
, yah, tapi terkadang saya juga harus berhitung sebelum memutuskan untuk ikut berkompetisi, dan hasil hitungan terkadang mengatakan saya agar tidak ikut berkompetisi, tapi bukan kompetisi capres wakaka kaka.
Oh iya tentang Polling, iya sebenarnya udah tau, sejak pertama diterbitkan, tapi udah g bisa diedit, karena udah ada yang Vote. Hiks, ada ide?
Wah maaf.. ga ngerti kalo itu..
ayo….bang fiko jadi presiden
aku dukung
aku juga pengen jadi yg nomor 1,, hihihi,,
perasaan dah komeng deh disini? bang fiko????
Cuman yang ini yang ada, Jeng
oia kenalan dengan blog baru ya *nyodorin tangan* kok diem ce salaman donk
ditunggu kunjungan balik dan komentarnya di blog gadget dan technologi.
awas lho kalao engga berkunjung tak jithak pakai tiang listrik wakakaka *kabuuurr *ngumpet
Salam kenal kembali… |sambil nyodorin tangan|
wah kenapa memilih hanya jadi penonton bang
mestinya sebagai warga yang baik kan harus turut menentukan nasib bangsa *macak sok nasionalis*