Munas Golkar dan Masyarakat Riau

grab.phpMusyawarah Nasional (Munas) salah satu partai politik besar di Indonesia yaitu Partai Golkar baru saja usai dilaksanakan. Munas VIII yang berlangsung di Pekanbaru (sebenarnya masuk wilayah Kab. Kampar) Riau itu, berlangsung hingga tanggal 8 oktober 2009 kemarin.

Hasil dari munas itu sendiri dapat kita temukan di berbagai media besar di Indonesia, kecuali Media group milik Surya Paloh, karena beliau kalah dalam pemilihan ketua umum partai Golkar. Dan seluruh masayarakat Indonesia sekarang pastinya sudah tau kalau partai beringin itu selama lima tahun kedepan dipimpin oleh Ir. Aburizal Bakrie.

Bagi orang-orang yang berada di dalam internal partai, sosok Aburizal Bakrie yang juga menjadi salah satu menteri di kabinet SBY sekarang ini, mungkin adalah sosok yang sangat pas untuk memimpin partai tersebut dan mengembalikan apa yang mereka sebut dengan kejayaan partai Golkar. Tapi bagi masyarakat Indonesia, sosoknya identik dengan bencana yang sampai saat ini masih tetap melanda saudara-saudara kita di Porong, Sidoarjo. Ya, bencana lumpur tersebut sampai saat ini sepertinya sudah dianggap angin lalu saja, tanpa ada tindak lanjut untuk menyelesaikannya secara tuntas. Sementara itu, derita masyarakat disana juga masih sangat berat karena mereka kehilangan “dunia” tempat mereka hidup selama ini, dan tidak mendapatkan apa yang selayaknya mereka dapatkan sebagai kompensasi dari bencana tersebut.

Dengan pandangan yang beredar di masyarakat tentang sosok ketua umum baru partai Golkar itu, saya secara pribadi tentunya merasa pesimis kalau kebangkitan partai tersebut untuk meraih kemenangan di pemilu mendatang dapat terwujud. Tapi itu tidak penting bagi saya, karena saya toh juga bukan orang Golkar, dan mereka juga tidak kenal dengan saya.

Namun, beberapa hal yang mungkin akan berpengaruh terhadap masyarakat Riau, Pekanbaru khususnya adalah bahwa sekarang masih banyak baliho, spanduk dan umbul-umbul berwarna kuning yang bertebaran di hampir seluruh penjuru kota dan entah kapan dibersihkan. Selain itu, saat ini masyarakat Riau akan kembali ke kehidupan “normal” nya dengan sepertiga hari tanpa listrik.

Dalam beberapa “status Facebook” yang ditulis oleh teman-teman saya, mereka menyampaikan harapan agar Munas berlangsung sepanjang waktu atau minimal sekali dalam sebulan agar dapat terus menikmati listrik tanpa ada pemadaman bergilir. Sementara beberapa dari mereka justru “merindukan” kembali suasana Pekanbaru yang kadang terang, kadang gelap.

Sebagian besar masyarakat Riau mungkin tidak memiliki kenangan dengan munas ataupun apa yang telah dihasilkannya, walaupun pemimpin daerah ini sebagian besar adalah bagian dari partai tersebut. Namun bagi sebagian masyarakat yang tinggal di dekat lokasi Munas, akan memiliki kenangan tersendiri terhadap acara tersebut. Warung-warung makan laris manis diborong oleh para petugas keamanan yang bertugas di sekitar lokasi acara. Jalan semakin besar dan mulus (sementara).

Sementara yang lainnya, mungkin akan mengingat bahwa selama beberapa hari itu, mereka harus melapor kepada para polisi untuk kembali ke rumahnya masing-masing, termasuk saya, yang sempat tidak boleh pulang karena situasi munas yang katanya sedang panas.

Satu harapan dari seluruh masyarakat Indonesia, siapapun dan apapun yang dihasilkan dari munas tersebut, semoga negeri ini semakin baik dan sejahtera.

foto: antarafoto.com

Share and Enjoy:
  • Print
  • Google Bookmarks
  • Twitter
  • Technorati
  • Facebook
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • email
  • Digg
  • Add to favorites

Post to Twitter

Tags: , , , ,

5 Comments

Leave a Reply

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.

CommentLuv Enabled