Mereka Juga Bersuara
Pagi itu, langit Pekanbaru berwarna kelam. Mendung menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Lalulintas masih sepi. hanya sekali-sekali kendaraan melewati jalan kecil tempat sebuah warung kopi berada. Aku menuju warung kopi tersebut, dan memesan secangkir kopi susu panas. Sengaja mengambil tempat di dekat jendela, agar aku bisa melihat suasana pagi di kotaku. Memang sudah lama sekali aku tidak menikmati suasana seperti ini.
Di seberang jalan kecil tempat warung kopi ini, sekelompok orang berbaju kuning terlihat sedang ngobrol sambil sesekali bercanda. Ada yang duduk, jongkok atau berdiri. Mereka adalah para pekerja kebersihan kota yang sedang menunggu jemputannya. Tidak ada yang menarik dari sekelompok orang tersebut hingga ntah kenapa kelompok tersebut terpecah menjadi dua. Dua orang pria dari sekelompok orang tersebut memisahkan diri dan mengambil tempat sendiri di sisi kelompok pertama. Ternyata dua orang yang memisahkan diri ini menderita cacat bisu (tunarungu). Keduanya terlihat becanda berdua saja, sementara kelompok yang lainnya masih tidak berubah, masih ngobrol dan bercanda sesama mereka.
Aku tidak tahu persis apa yang mereka obrolkan, karena mereka tidak sedikitpun mengeluarkan suara. Hanya gerak bibir dan ekspresi muka yang memperlihatkan kalau mereka sedang bahagia atau merasa lucu akan bahan ‘obrolan’ mereka saat itu. Bahkan tawanyapun sunyi.
Mereka menggerakkan hampir seluruh anggota badannya untuk menunjukkan suatu maksud yang ingin disampaikannya. Setelah itu mereka tertawa namun tetap tanpa suara.
Ada kekontrasan kulihat diantara dua kelompok tersebut. Kelompok pertama yang merupakan kelompok awal yang terbentuk pagi itu, selayaknya orang lain yang ‘normal’, bercanda dan ngobrol mengeluarkan suara. Bahkan ketika temannya menyampaikan sesuatu yang lucu, tawa mereka terdengar cukup keras memecah pagi itu. Sementara, dua orang lagi yang ‘tidak normal’, yang memisahkan diri dari kelompok kebayakan, sebenarnya sama seperti orang ‘biasa’ lainnya. Mereka ngobrol, bercanda, tertawa, namun tanpa suara. Mereka seperti ingin meneriakkan sesuatu, seperti ingin memperdengarkan sesuatu kepada dunia pagi itu bahwa mereka ada, mereka sedang bicara, mereka sedang bercanda bahkan tertawa. Namun tetap sunyi. Bagiku, yang kedengaran tetaplah suara kelompok yang lebih banyak dan mengeluarkan suara ketimbang mereka yang hanya berdua dan tanpa suara.
Berkaca dari apa yang kulihat pagi itu, mungkin inilah kenyataan yang terjadi saat ini, di negeri ini, ketika rakyat kecil, yang hidup di tengah hiruk pikuk kota, atau mereka yang justru berada di pelosok-pelosok kampung dan di tengah hutan, mencoba berteriak tentang derita hidup mereka. Namun tetap saja tidak terdengar. Yang terdengar tetap saja hiruk pikuk kota dengan segala gemerlapnya.
Bagi rakyat kecil, kaum minoritas yang ingin menyampaikan suaranya… mungkin sebaiknya diam atau berteriaklah ditengah kaummu sendiri. Karena kaum mayoritas sang penguasa kota atau negeri ini, tidak bisa mendengar teriakanmu! Atau contohlah dua orang tunarungu tersebut yang memukul bahu temannya yang normal atau menarik baju mereka, agar orang-orang normal itu tahu bahwa mereka juga ingin bicara, walau akhirnya tetap tanpa suara. Walau akhirnya mereka yang ‘normal’ mungkin tetap tak mengerti apa yang ingin kau sampaikan.






sering melihat mereka. orang-orang yang memiliki sedikit kekurangan, tapi mempunyai banyak kelebihan.
mereka berkomunikasi antar sesama mereka. hal ini membuktikan bahwa komunikasi bisa terjadi melalui media bukan hanya suara tapi juga gerak
kekurangan dalam diri kita bukan berarti harus kita sesali, justru akan lebih baik jika kekurangan itu menjadi motivasi kita untuk lebih bersemangat dan menggali potensi diri untuk seterusnya kita kembangkan dalam kehidupan kita
nice post bang, sip banget
Setuju, Win
tidak miskin kurang kaya..yooo tapi sederhana…
persetan aku juga mereka…
ck…ckk.ckk….
M E R D E K A A A A A A………
entah kata apa yang mereka ucapakan
entah gerakan apa yang mereka perlihatkan….
yang jelas masing masing dalam hati mereka hanya ingin mengungkapkan kata MERDEKA….entah merdeka berekspresi, merdeka finansial, merdeka beropini, merdeka berempati, merdeka bersimpati,…intinya merdekaaa ajaaa…merdeka dalam segala hal.
Jadi Bang…..artinya ….Marilah kita sholat dzuhur berjamaah….
Hahaha… pokoknya terjadi komunikasi 2 arah sesama mereka
pendukung rakyat jelata dan yang dijelatai bang fiko.
Dijelatai maksudnya gimana tuh, Jeng? Aku juga rakyat jelata lho Jeng..
tes
http://edi-war.blogspot.com
aku lagi cari blog pak edi
ooOoOOooo… beruntunglah kita yang masih biasa biasa saja..
sangat-sangat beruntung bro
semoga saya bisa lebih peduli…
Harus donk bro…
kurangnya perhatian antar sesama mengakibatkan tercampaknya suatu orang/kelompok
Kadang memang itu terjadi tanpa kita sadari
ass…..met malam pak ketua….
eh….seandainyo yang bisu tu dapat berkato macam kito ne….kiro-kiro apo yang nak di cakap…..tanya????????????????????
Yang pasti sepertinya mereka sama seperti kita saling bercerita