Menu Tradisional Melayu Hanya Milik Orang Kaya?
Beberapa waktu lalu, ketika blogger Bertuah mendapakan kunjungan tamu blogger dari Aussie, Anthony Bianco, beberapa teman baik blogger maupun yang tidak, berkomentar begini: “Bang Fiko, kenapa Anthony pertama kali justeru diperkenalkan dengan menu yang bukan asli Melayu?”
Komentar itu muncul karena waktu pertama kali datang ke Pekanbaru, Anthony aku ajak untuk menikmati secangkir teh telur, yang menjadi postingan pertamanya tentang Pekanbaru. Memang Teh Telur mungkin bukan menu asli melayu, tapi teh telur merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Pekanbaru.
“Tapi kan menu masakan melayu banyak, Bang, di Pekanbaru..” Teman itu masih berusaha memojokkan aku dengan pernyataannya tersebut, seakan-akan aku tidak mencintai menu tradisionil nenek moyang leluhurku.
Padahal sebenarnya Anthony juga aku bawa untuk menikmati masakan khas Melayu di sebuah rumah makan yang lumayan berkelas. Ya, karena mamang kalau ingin menikmati menu masakan melayu di Pekanbaru, kita harus merogoh kocek lebih dalam lagi mengingat harganya yang jauh di atas rata-rata rumah makan lain di Pekanbaru.
Rumah-rumah makan khas melayu yang ada di Pekanbaru sebagian besar merupakan tempat-tempat makan yang biasa dikunjungi para pejabat, tokoh-tokoh penting dari Jakarta, artis, dan orang-orang berkantong tebal lainnya. Sementara, sangat sulit untuk mencari menu tradisional melayu yang dijual di rumah-rumah makan standar masyarakat awam. Itulah sebabnya masyarakat Pekanbaru (sebagai ibukota provinsi Riau) yang katanya Melayu, mungkin banyak yang tidak familiar dengan menu-menu masakan melayu, termasuk aku. Bagiku, kalau ditanya menu masakan melayu seperti apa, cobalah makan di rumah orang-orang melayu. Maka anda akan merasakan resep masakan orang melayu.. hehe..
Beberapa waktu lalu di surat kabar lokal diberitakan bahwa Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Provinsi Riau berencana akan menggalakkan wisata kuliner melayu. hal ini berkaitan dengan provinsi Riau yang akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan PON XVIII tahun 2012 mendatang. Namun, hingga saat ini, rencana itu sepertinya masih sebatas rencana yang entah kapan direalisasikan. Atau mungkin rencana itu akan menambah deretan rumah-rumah makan khas melayu yang mahal seperti yang ada saat ini.
Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Kota Pekanbaru seharusnya mungkin lebih jeli untuk lebih memperbanyak tempat-tempat makan dengan menu masakan melayu nan murah, untuk dinikmati oleh masyarakat lokal dulu, baru berfikir untuk menyediakan tempat makan berkelas untuk tamu-tamu penting dari luar daerah. Dengan demikian, menu masakan melayu akan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Semoga..
Ahh.. jadi lapar… menu masakan yang paling enak di mana ya? sepertinya menu masakan mama masih paling enak… Selamat makan..
note: gambar dicomot dari thetraveltart.com dan riaudailyphoto.blogspot.com
Tags: kuliner, menu tradisional melayu, pekanbaru, PON XVIII, riau, Teh Telur, wisata








aku kangen gulai patin ibuku…. gulai ikan salai… gulai pucuk ubi, semuaaa masakan melayu ibuku……. asam pedas nya…. ahhhh masak sendiri je lah.. apalagi masakan ibu, lebih nikmat… makannya sambil tengok muka beliau…. hym…..

sayang aku tak bisa masak
reny payus´s last blog ..Jogja… Yuk, Belajar Pertolongan Pertama Kecelakaan pada Anak