Lulus-Lulusan SMA dan Ritual Corat-Coret Baju

Pak Amat yang memiliki toko cat dekat rumahku terlihat sangat ramah kemarin. Kemarin cat semprot beraneka merek dan warna yang ada di tokonya diborong habis oleh anak-anak SMA. Ya.. Kemarin bertepatan dengan pengumuman Ujian Akhir Nasional atau UAN untuk tingkat SLTA. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu ada ritual saling coret baju bagi siswa-siswi yang dinyatakan lulus.

Begitu juga di Pekanbaru, Sore pulang dari kantor kemarin, jalan Sudirman yang merupakan jalan protokol di kota ini dipenuhi anak-anak berseragam putih abu-abu (yang sudah bercampur dengan aneka warna dari cat semprot dan spidol yang saling ditulis/semprot oleh teman-temannya. Suasana ini menyebabkan jalan Sudirman yang sehari-harinya sudah lumayan macet, semakin bertambah macet. Apalagi di sekitar Bandar Serai yang merupakan pusat keramaian di Pekanbaru. Lulus SMA sering diidentikkan dengan sebuah kebebasan. Kebebasan dari belengu sebuah seragam sekolah, juga kebebasan dari berbagai aturan yang diberlakukan karena masih dianggap ‘anak-anak’. Karena itu, ritual lulus SMA selain diisi dengan corat-coret baju seragam, juga dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh anak-anak ini dengan berbagai aktivitas yang seolah-olah ingin menunjukkan bahwa mereka sekarang sudah dewasa, seperti merokok, minum-minuman beralkohol, dan sebagainya. Euforia kebebasan yang berlebihan ini sering kali berakibat fatal pada maut akibat kebut-kebutan di jalan.

13 tahun yang lalu aku merasakan juga berada di posisi mereka. Lulus SMA dan ritual corat-coret baju. Dan saat itu aku juga kehilangan seorang teman akibat kecelakaan lalu lintas. Karena itu, ketika melihat anak-anak SMA yang sangat menikmati keberhasilan mereka menempuh jenjang pendidikan tingkat atas ini, aku kembali terbayang ke masa itu, dan akhirnya hanya kekhawatiran yang ada dalam diriku.

Ritual corat-coret baju dan merayakan kelulusan SMA dengan cara hura-hura tersebut mungkin tak kan pernah hilang sampai kapanpun. Dan mungkin itu akan selalu menimbulkan kekhawatiran dalam diriku ketika menyaksikan kembali peristiwa yang sama.

Di sudut lain kota , seorang gadis juga dengan seragam abu-abu, menangis histeris. Rasa tak percaya ketika membuka amplop pengumuman yang diberikan pihak sekolah ternyata tertulis TIDAK LULUS. Dunia seakan kiamat saat itu. Bahkan mengakhiri hidup pun sempat terfikir untuk dilakukan karena malu pada lingkungan. Malu pada dunia. Bukan hanya seorang gadis, tapi puluhan atau mungkin ratusan siswa yang mengalami ketidak lulusan ini. Bagi mereka yang tidak lulus, atau bagi pihak sekolah, semua menganggap karena standar kelulusan yang ditetapkan oleh pemerintah terlalu tinggi untuk ukuran anak sekolah di Indonesia. Entah siapa yang salah? Apakah pemerintah yang dengan pedenya menaikkan standar kelulusan tersebut karena menganggap pendidikan di Indonesia memang telah semakin baik? Atau pihak sekolah yang tidak mempu mengikuti program dan kurikulum pendidikan yang telah ditetapkan oleh pemerintah tersebut?

Apapun kejadiannya, Akhir pendidikan di bangku sekolah selalu menyisakan berbagai kisah suka dan duka. Layaknya sebuah final pertandingan sepak bola, di sebuah daerah masyarakat bersuka cita, sementara si daerah lain masyaraktnya berduka. Itulah kehidupan.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Google Bookmarks
  • Twitter
  • Technorati
  • Facebook
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • email
  • Digg
  • Add to favorites

Post to Twitter

Tags: , , , ,

13 Comments

Leave a Reply

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.

CommentLuv Enabled