Kabinet Indonesia Bersatu II: Sebuah Harapan Baru?

Menjelang pelantikannya, Presiden terpilih Indonesia, SBY akan memanggil orang-orang yang kelak akan duduk di kabinetnya, Kabinet Indonesia Bersatu II. Beberapa nama mungkin akan tetap bertahan dalam susunan kabinet tersebut, namun beberapa nama akan tersingkir dan digantikan oleh muka-muka baru. Hari-hari belakangan ini tentunya menjadi hari yang mendebarkan bagi para politisi maupun petinggi-petinggi negara yang berharap akan mendapat jatah posisi di kabinet tersebut.

Para partai pendukung SBY dalam kampanye Pilpres kemarin tentunya sudah menyodorkan beberapa nama untuk mengisi jatah kursi yang telah disepakati. Dan sisanya, SBY menyebutkan akan lebih banyak mengambil para kalangan profesional dan karir.

Hasil pemilu pileg dan pilpres yang menempatkan SBY dan Partai Demokrat sebagai pemenang, bisa jadi akan membuat SBY lebih percaya diri dan kurang memperhatikan suara-suara yang berseliweran di sekelilingnya. Kalau dilihat dari sisi positif, mungkin akan sangat baik karena SBY mungkin akan lebih memiliki kekuatan untuk menempatkan orang-orang yang dianggapnya mampu untuk duduk di kabinetnya. Namun kalau di lihat dari sisi negatifnya, bisa jadi ini akan menjadi kesempatan bagi SBY untuk menempatkan orang-orang yang akan memperkuat kekuasaannya, tanpa memperhatikan apakah orang tersebut layak atau tidak duduk di posisi tersebut.

Siapapun orang yang akan dipilih, tentunya masyarakat mengharapkan kabinet bukan hanya sarana untuk berbagi kekuasaan dari para partai politik, namun lebih dari itu, hendaklah orang-orang yang tepat di posisi yang juga tepat. Sehingga berbagai program dan kebijakan yang ingin dilaksanakan oleh pemerintah dapat terlaksana dengan baik. Jangan ada lagi menteri yang sibuk jalan-jalan ke dalam maupun luar negeri, sementara tidak memberikan kontribusi yang berarti bagi negeri ini.

Namun, belum lagi kabinet itu terbentuk, mobil mewah yang harganya lebih mahal dari mobil yang dipakai oleh para menteri 5 tahun kemarin, sudah dipesan untuk para menteri yang baru. Pertanyaannya, apakah mobil mewah sebelumnya itu sudah tidak layak pakai lagi, atau mungkin gengsi bagi seorang menteri harus menggunakan mobil bekas, terutama menteri-menteri yang baru menjabat.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Google Bookmarks
  • Twitter
  • Technorati
  • Facebook
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • email
  • Digg
  • Add to favorites

Post to Twitter

Tags: ,

26 Comments

Leave a Reply

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.

CommentLuv Enabled