Bukan Membongkar Gurita Cikeas

Masih ingat dengan buku “Membongkar Gurita Cikeas” karya George Junus Aditjondro yang fenomenal itu? Tadi aku melihat seorang lelaki tua menawarkan buku tersebut kepada para pengendara motor dan mobil yang berhenti di pertigaan lampu merah jl Sudirman – Jl Harapan Raya, Pekanbaru. Buku yang secara tiba-tiba hilang dari peredaran tersebut membuat orang begitu antusias memburu buku tersebut, bagaimanapun caranya.

Ada sebuah trik yang kurasakan yang mungkin saja dilakukan oleh orang-orang yang berkepentingan agar buku tersebut laris manis di pasaran, yaitu dengan cara membuat seolah-olah buku tersebut dicekal atau ditarik dari perederan. Atau menurut media diborong oleh sekelompok orang yang misterius. Tujuan dari trik ini adalah membuat orang menjadi penasaran akan isi buku tersebut, lalu, ketika buku itu diluncurkan kembali, masyarakat akan berbondong-bondong membelinya karena takut kehabisan lagi. Terbukti, masyarakat Indonesia, tak peduli berasal dari kalangan manapun sibuk berburu buku yang katanya menceritakan keterlibatan Presiden SBY beserta team suksesnya dalam beberapa kasus korupsi di Indonesia.

Buku-buku yang bernuansa politik seperti itu biasanya hanya dibaca oleh kalangan masyarakat tertentu saja. Tapi tidak dengan “Membongkar Gurita Cikeas”, bukunya kini diburu oleh seluruh lapisan masyarakat. Dan ini bukan sesuatu yang biasa di tanah air. Kalaulah memang trik ini benar, maka media adalah salah satu sarana yang paling berperan dalam menyukseskan trik tersebut.

Fenomena “Membongkar Gurita Cikeas” diatas hanya opiniku dan sebagai pengantar dari tulisan yang kupersembahkan khusus untuk Anazkia ini. Dia adalah seorang teman blogger yang mencari nafkah di negeri seberang, Malaysia. Dia ngetag aku untuk menulis tentang “buku apa yang membuatmu menangis?”

Sejujurnya aku bukan seorang pencinta buku sejati, apalagi yang namanya novel. Bagiku, membaca kisah yang begitu panjang dalam novel setebal ratusan halaman sungguh melelahkan. Ada beberapa novel atau fiksi yang sempat kubaca, yang membuat aku terharu biru membaca kisahnya. Sebuah buku berjudul “Bolehkah Aku Memanggilmu Ayah?“  karya Chichi Sukardjo adalah sebuah kumpulan kisah islami tentang hubungan antara orang tua dan anak yang membuat aku terharu biru membacanya. Namun diluar itu,  ada sebuah novel yang membuat aku benar-benar menangis membacanya. Untuk Anazkia yang telah berbaik hati ngetag aku untuk membuat tulisan ini, maka aku akan kasih bocoran judul novel itu.

Novel itu menceritakan perjuangan lelaki yang menderita sakit gagal ginjal kronik, dan istrinya yang dengan penuh kesabaran menjaga suaminya itu, untuk menunaikan ibadah haji. Perjuangan mulai dari bagaimana mendapatkan uang, sampai akhirnya uang tersebut harus lenyap begitu saja karena penipuan biro perjalanan hajinya, hingga akhirnya Allah berkehendak untuk mengabulkan niat tersebut. Judulnya “Menggapai Tanah Suci”.

Novel ini tidak beredar bebas di toko buku. Bukan karena dicekal Seperti “Membongkar Gurita Cikeas”, tapi karena bukunya memang belum jadi. hehe… Yup.. novel tersebut adalah novel yang belum selesai kutulis. Novel yang mengangkat kisah nyata perjuangan papa (alm) dan mama dalam mewujudkan niatnya ke tanah suci beberapa tahun lalu.

Selebihnyua, buku-buku yang menumpuk di rumahku adalah buku-buku non fiksi seperti modul-modul kuliah, public speaking, motivasi, dan berbagai buku-buku lain punya Aksan dan bundanya.

Tetap semangat membaca, ya…

Share and Enjoy:
  • Print
  • Google Bookmarks
  • Twitter
  • Technorati
  • Facebook
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • email
  • Digg
  • Add to favorites

Post to Twitter

Tags: ,

8 Comments

Leave a Reply

CommentLuv Enabled