Anakku Musuhku

Pada saat seorang masih di dalam kandungan, setiap orang tua mesti telah menyiapkan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan sang (calon) anak. Mulai dari asupan gizi, berbagai kebutuhan pakaian dan perlengkapan bayi, sampai perencanaan masa depannya.

Orang tua yang memiliki kemampuan lebih, mulai mempersiapkan apakah itu namanya tabungan masa depan, tabungan pendidikan, dan sebagainya. Sementara yang memiliki kemampuan pas-pasan, ya memperbanyak do’a saja semoga anak dan ibunya sehat, dan tak lupa anaknya menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, agama, nusa dan bangsa.

Nama juga tak lupa dipersiapkan dari jauh-jauh hari sebelum kelahiran si cabang bayi. Nama adalah do’a. Karena itu nama dibuat sebagus mungkin dengan harapan kehidupan si anak akan sesuai dengan yang dido’akan. Ada juga orang yang memberi nama seperti tokoh-tokoh tertentu dengan harapan si anak akan menjadi seperti tokoh tersebut atau minimal memiliki kepribadian yang sama dengan sang tokoh.

Aksan dan Aurel, Anak pertama dan keduaku

Dulu, waktu anak pertamaku mau lahir, aku baru sibuk nyari nama untuk dia. Akhirnya, karena waktu itu aku sedang menikmati profesi sebagai pemain drum (amatiran), dan aku mengagumi sosok Wong Aksan (waktu itu drummer Dewa), makanya nama drummer itu aku abadikan menjadi nama anakku dengan harapan kelak dia juga bisa menjadi drummer, lebih jago dari ayahnya. Aksan, itulah panggilannya. Sampai pada saat ulang tahun pertamanya, aku memberikan kado drum mainan, masih dengan harapan cita-cita yang aku inginkan untuk anakku bisa terwujud. Ternyata tidak juga.

Memasuki usia taman kanak-kanak (TK) aku mulai menyerah untuk mengarahkannya menjadi pemain drum karena tidak ada sedikitpun ketertarikannya terhadap musik. Aku pindah ke rencana kedua, aku ingin dia menjadi pemain bola. Karena itu aku belikan kostum bola dan juga sebuah bola. Dan sekali lagi ternyata minatnya juga tidak kesana. Anak pertamaku itu ternyata menyenangi kegiatan menggambar.

Sampai disini aku tersadar kalau sebagai orang tua, kita takkan pernah bisa memaksakan akan diarahkan kemana anak kita, atau akan menjadi apa anak kita. Sebagai orang tua kita hanya bisa membimbing dan mengarahkan untuk membantunya mewujudkan cita-citanya. Sementara yang mengambil keputusan terakhir akan menjadi apa dia, tetap dirinya sendiri. Aku mulai mencoba ikhlas untuk menerima bakat anakku apa adanya. Tidak ada lagi ‘paksaan’ harus menjadi apa dia.

Suatu sore, setelah menyaksikan iklan Piala Dunia 2010 di televisi, Aksan bertanya tentang tim yang akan kujagokan di even akbar Sepak Bola tersebut. Aku menjawab Der Panzer Jerman. Lalu dia bilang kalau ternyata dia menjagokan Inggris.

“Kenapa suka Inggris?” Tanyaku.

“Gak ada… Aksan suka aja.” Jawaban orang yang tidak maniak bola ya gini.. hehe.

“Wah berarti kita musuh, donk?” Tanyaku lagi.

“Gak apa lah, Yah.. Nanti pasti Jerman kalah!”

Hmm.. Piala Dunia belum mulai, aku sudah perang dukungan tim sepakbola dengan anakku.

“Eh, Yah.. Kalau Bayern Munchen tuh apa, Yah? Kenapa Ayah tidak milih Bayern Munchen di Piala Dunia?”

Lalu aku jelaskan kalau Bayern Munchen itu klub sepak bola seperti MU, Barcelona, PSPS, dan sebagainya. Sementara Jerman, Inggris itu adalah negara-negara yang akan bertanding.Jadi Piala Dunia itu khusus pertandingan antar negara.

Dia memahami jawabanku. Namun yang mengejutkan ketika dia mengatakan “Kalau gitu, Aksan milih MU lah, Yah.”

Aku terhenyak mendengar pernyataannya. MU adalah musuh besarku. Dan berarti sekarang anakku berada di posisi musuhku tersebut. Aku gak bisa membayangkan ketika suatu saat nanti dia minta dibelikan kostum MU atau Inggris yang bagiku haram untuk dibeli, apalagi melihat dia memakainya setiap hari…

Ampuuuuunnnn….

Share and Enjoy:
  • Print
  • Google Bookmarks
  • Twitter
  • Technorati
  • Facebook
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • email
  • Digg
  • Add to favorites

Post to Twitter

Tags: , , , , ,

20 Comments

Leave a Reply

CommentLuv Enabled